Tuesday, August 2, 2016

THINGS BEFORE GRADUATE

I have two months left to do things I have been wanting to do since years ago.
All the lists will be posted in this post.


March 9, 2016.



Been there, Bosscha!


July 28, 2016.

Mainin grand piano Sasana Budaya Ganesha sebelum tetangga sebelah (PSM-ITB) dateng.


July 31, 2016.

MAKAN TUTUT BANDUNG!!!!!

Saturday, July 16, 2016

10 Things I Learned in College

After four years of incridible college life, I have learned few things.
Not including Bandung is a concrete jungle where dreams are made and nothing you can not do in this city.

1. People will stop ask you out if you don't go.
People tend to ask people who come out first on their mind. If we never go everytime we were invited, we will not be on their top of mind. As an introvert who enjoys a "me time", I often had hard times to resist the gravitational pull of my room. But we need to fight, sometimes.

2. If something is wrong with the person in the team, it is the failure for whole team.
In college, we had the opportunity to work with different types of people. In academic life alone, dozens of different groups had been formed. In here, we used to call teammates as "partner". It is very common to talk about partner's behind. Not as a hobby, this is usually done just to meet the outburst, as human being.

After all this time, I just realized that talking about our partner's weaknesses shows the failure of the team. Why? First, we may not well aware to the weaknesses of our own which might also disappointing. Secondly, when we talk about our partner's behind, then there we were talking about our own weaknesses. We are not able to work with our partners well as a team. So I believe, that is the failure for the whole team.

3. You can not please everyone.
No matter how hard you try. Leave it or you will be the only one who left unhappy.

4. When you are too afraid to make mistakes, you might be the one who has hardest time forgiving others' mistakes.
I divided the kind of person who is too afraid to make mistakes into two types:
1) The one who avoids the risks or hardly forgive himself.
2) The one who easily puts the blame on others.

If you are one of them, you might be the one who has hardest time forgiving others' mistakes. And if you are, believe me, the sorrow will always follow.

We really need to learn that we all make mistakes.

5. When people see good, they expect good.
But we don't have to live up people's expectation.

When people told us that we are not as good as they thought we are, ignore it. As long as we don't do bad things, people need to learn that we all have weakness. Secondly, people need to learn that we have our own reason about all the good things we didn't do.

But when people told us that we did a bad thing, that means they believe that we can be better than we are now. A little self-introspection would help, to be a better person we can be. 

6. Peer group is not a social taboo. 
Peer group can help people to form their identity. But it somehow is often misinterpreted as a "block". Children are less likely to accept those who are "different" from them. But teenagers and adults can form maturer social relationship.
Identity is a mental border, not a mental blocker.
Identity borders/defines who we are and what we believe, but it has to have pores as a border.

Karena kelompok sosial yang solid itu bukan tentang berkumpul dan melakukan segala sesuatunya bersama dengan pandangan yang sama, bukan tentang menyatukan semesta kelompok sosial menjadi kesatuan yang dense, tapi adalah tentang bagaimana setiap individu di dalamnya dapat berdifusi secara menyeluruh dan merata ke seluruh area yang tersebar seluas-luasnya.
And peer group itself is a home.
A place we will always come back to.

7. When you are angry, count to ten. When you are very angry, count to hundred.
Some said people show their true self when they are angry.
And that is the scariest line I have ever heard.
I have seen hundreds tragedies when people get angry. We say terrible things, and somehow end up feeling regret. At first I thought the scariest moment is when the most patient people get angry, I feel like I was losing them. But apparently, 
the worst feeling is when you lose yourself.
It is funny to conceive how angry can show people's true self but make them feel they are losing theirselves at the same time. And the solution is simple, don't get angry. Think of million terrible things that you might posibbly say when you are angry, how people judge you because of that, and those that you can never completely undo.  

8. Friendship takes time and work.
"Friendship takes time: time to get to know each other, time to build shared memories, time to invest in each other's growth."
Everyone does understand the concept. But sometimes most people don't realize that it is simply by sending our friends chats or texts, resist the gravitational pull of our confy bed and go to parties, arrange some time for lunch with our friends that don't live across the street, cook some meals and bring them to our school then eat them together with our friends, keep our friends' birthdates in the notes and sending them a short birthday messages. Some of us may not the one who are very fond of the today's social media or technologies. But those may be some tools that we can use to maintain our friendships.

We have to put in the effort to keep (or make) friends.

9. You are what you choose to be.
You are feeling sad about something, you get angry with people, you get good or bad grades, you are always late, you are not a morning person, you are treated good or bad, the major you took, the games that addict you, your successes and failures,
You are not what happened to you, but you are what you choose to be.
You can not blame anyone about all the things that happen to you. Nor your parents, friends, (ex)girl/boyfriend(s), neighborhoods, or else. Don't let your hatred or regrets consume you. Give some time for self reflection and keep moving on.

10. Chemical Engineering does really know how to make me fall in love.

Thursday, June 16, 2016

Bachelor of Science.

15 Juni 2016.

"Kadang ujian itu tidak hanya diberikan Tuhan lewat sebuah kesulitan/kegagalan, tetapi juga lewat setiap kemudahan/kesuksesan yang kita dapatkan."
Masih banyak yang belum aku mengerti tentang-Mu.
Yang aku tahu, tak ada nikmat-Mu yang mampu aku dustakan.

Terima kasih Tuhan untuk yang ini.
Utari, S.T.


Saturday, June 11, 2016

Dari Aku, Tentang Mereka.

Teknik Kimia,
Institut Teknologi Bandung.

Tempat yang memanusiakan aku selama 3 tahun.
"Sometimes You Miss The Moments, Not The People."
Kutipan di atas sungguh sangat berlaku bagi saya, membuat saya kadang melupakan yang indah tentang orang-orang di sekitar saya. Untuk itu, hari ini saya ingin mencoba menggambarkan mereka yang telah memberi saya banyak kenangan indah, juga pelajaran berharga selama 3 tahun terakhir.

Saya selalu merasa, menggambarkan seorang atau sekelompok kerabat di dunia perkuliahan sebagai satu angkatan adalah dosa. Bagaimana tidak, kamu harus mengenali mereka satu per satu untuk dapat menarik kesimpulan dari pandanganmu tentang mereka. Tapi hari ini, saya merasa sangat ingin untuk menggambarkan mereka ataupun momen bersama mereka sebagai satu angkatan.
Boleh dilanjutkan dengan bahasa Bekasi, ya?

Teknik Kimia ITB 2009.
Super swasta yang asik dan nggak bisa serius.
Nggak banyak orang yang bisa gue temuin dari angkatan ini. Tapi tetep, mereka punya goresan momen sendiri. Mulai dari diomelin dalam satu forum tersendiri oleh super swasta karna slayer osjur yang ilang-ilangan. Entah kenapa menurut gue momen ini sangat berkesan. Karena walaupun inti masalahnya terkesan sepele, banyak banget wejangan yang didapet di forum ini. Selain itu, ada juga beberapa kenangan diomelin waktu praktikum MPA, karena pada jamannya masih banyak dari mereka yang menjadi asisten laboratorium. Kehadiran mereka menyempurnakan horornya cerita tentang Laboratorium Dasar.

Mereka juga superswasta yang nggak absen di malam pelantikan HIMATEK 2012. Paling nggak serius aseli, dan bukannya takut, gue malah merasa super swasta ini lah buffer ketegangan malam pelantikan. Ngerjain abis-abisan, tapi nggak pake teriak-teriak. Pos paling asik pokoknya.

Yang terakhir, adalah tentang tradisi 3 tahunan. Ini tradisi yang paling menyenangkan menurut gue selama kuliah di ITB, entah kenapa. HIMATEK-ITB punya tradisi 3 tahunan dimana "Malam Super Swasta" saat osjur yang terkesan menegangkan, diganti dengan hura-hura satu hari bareng antara angkatan satu dan 3 angkatan di bawahnya. Tradisi ini dimulai oleh angkatan 2006. Padahal cuma kenal dengan sejumlah itungan jari dari mereka, tapi kerasa banget kekeluargaannya. Permainan yang dilakukan pun sebenarnya sederhana. Ditambah, momen ini terjadi tepat satu minggu setelah arak-arakan Wisuda Oktober yang priceless banget. Wisuda Oktober memang masa dimana angkatan 2012 bisa mulai bonding dengan 2009 yang tersisa di kampus. Sampe sekarang, malam itu masih jadi wisnite paling berkesan selama gue di HIMATEK. 


Teknik Kimia ITB 2010.
Swasta yang anomali. 
Gue nggak akan menjelaskan tentang asal mula angkatan ini dapat disebut sebagai anomali, mungkin hanya segelintir aja yang ngerti. Angkatan 2010 adalah swasta kesayangan yang koleksi pria tampan dan rupawannya paling tumpe-tumpe. Mau dari Indonesia Timur ke Barat, sampe kokoh-kokohnya bisa banget jadi sasaran fan-girling. Bisa dibilang, semangat osjur angkatan gue grafiknya meningkat segera setelah kami memasuki fasa ketemu swasta. Interaksi malam pun jadi sesuatu yang nggak boleh dilewatkan HAHAHA.

Angkatan 2010 masih jadi angkatan paling supel yang pernah gue temui. Kerja bareng mereka di sisa waktu keberadaan mereka di kampus pun banyak ngasih gue pelajaran secara kilat. Mereka nggak bakal ragu melibatkan lo dalam sesuatu yang padahal gak pernah lo kerjain atau pahamin, juga dengan sabar menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan bodoh lo. Dan cuma angkatan ini yang bikin kegiatan bonding di kampus lebih kekeluargaan, mulai dari running man HIMATEK sampe tradisi dua tahunan.

Dan mungkin angkatan ini adalah angkatan yang komposisi main dan belajarnya paling pas. Yah nggak tau juga sih, jarang banget denger mereka ngeluh aja tentang akademik. Tapi bukan tipe ngegampangin juga. Lo bakal kena semprot ketika mereka mendengar lo meremehkan sesuatu, karena nggak ada yang bisa didapet tanpa kerja keras. Tapi lo juga bakal kena semprot ketika terlalu musingin suatu hal, karena ya "dibawa selow aja kaleee" gitu orang-orangnya. Pas lah pokoknya.

Ketika bicara tentang gaya memberikan nasihat sebagai seorang senior yang lebih berpengalaman, 2010 punya gaya tersendiri. Dengan perawakan luar yang mostly acakadut, mereka sangat lack of stok jutaan kata puitis dan bijak. Biasanya wejangan dari mereka selalu dimulai dengan kalimat-kalimat sampis, kemudian atmosfer keseriusan mulai meningkat, baru deh mereka pake kata-kata pamungkas yang bisa banget buat lo terhipnotis buat ngerespon "oh...iya sih kak iya, bener juga" atau "aku baru sadar sih kak.." sambil masang muka tablo dan end up feeling so helped.

Yang sangat patut dicontoh dari 2010 menurut gue adalah cara mereka untuk menempatkan diri. Maksudnya, mereka paling jago buat serius di tempat yang menuntut mereka harus serius. Tapi kalo lagi gak serius, mereka bisa jadi sosok-sosok yang berbeda 180 derajat. Pokoknya ini angkatan anomali banget lah. Entah kenapa, walaupun agak dangdut, dari hati terdalam gue selalu mendoakan semoga mereka selalu dapet hal-hal baik di luar sana. Karena di waktu interaksi gue dengan mereka yang sangat singkat, entah mengapa "ilmu" yang bisa gue serap dari mereka secara kilat cukup banyak. Wish you well always, kakak-kakak!


Teknik Kimia ITB 2011.
Terkakak.
Gue nggak merasa hubungan dengan angkatan satu ini dimulai dengan baik. Standar lah, namanya juga hubungan senior-junior pengosjur-diosjur. Setelah mencoba mengingat, kayaknya gue jarang banget punya momen manis di kampus dengan angkatan ini selama masa osjur. Kali pertama responsi bersama asisten matkul aja tegang banget kayak ngeliat guru SD lo bawa sabetan ke kelas.

Di mata gue, 2011 itu angkatan super ambis dengan prestasi akademik cemerlang yang pelit senyum dan kayak patung. Karna setiap kali lo ke himpunan/hotspot lo bakal ngeliat mereka duduk di depan laptop kayak patung. Hubungan "panas" dengan 2011 pun nggak berakhir di osjur, masih berlanjut dalam hubungan mahasiswa-asisten akademik sampai puncaknya: di labtek. Dari beberapa yang bisa gue kenal, cuma segelintir yang menurut gue bisa diteladani. Untungnya para segelintir ini, se-te-la-dan itu.

Setelah 2010 pergi, mau tidak mau 2012 harus bisa kerja bareng 2011. Di sinilah semua itu berawal. Dari keadaan "terpaksa" ini, malah timbul banyak ketidaksengajaan yang gue alami. Di masa-masa tinggal "berdua" di himpunan, gue justru secara tidak sengaja jadi mengenal lebih dekat banyak orang dari mereka. Dan seketika gue sadar, 2011 punya banyak manusia super.
Se-ba-nyak-i-tu.
Pikiran gue jadi super terbuka, pandangan gue pun berubah. Dari yang "cuma segelintir yang bisa diteladani" berubah jadi tak hingga role model. Dari mereka gue sadar kalo sebenernya semua orang bisa banget jadi role model, semua orang punya sisi baik yang bisa diteladani, dan sisi buruk yang nggak perlu terlalu lo pusingin atau lo judge.

Mulai dari kedisiplinan; hardwork; menjadi kakak yang baik; keberanian buat nyoba hal baru; gotong-royong; berani ambil risiko; tanggung jawab; keseimbangan dalam hidup; sampe kesampisan yang pastinya jadi warna banget buat hari-hari lo; plus idealisme lain tentang datang tepat waktu, anti nyontek, tata krama, atau titip absen bisa gue dapetin dari angkatan ini. 2011 punya pesona sendiri di mata gue. "Work Hard, Play Hard" bukan cuma sekedar kiasan buat mereka. Dan oleh 2011 gue merasa kalo sedang diayomi sebagai seorang adik.

Wisuda Juli 2015 menurut gue masa-masa yang paling bikin baper karena lebih dari setengah angkatan 2011 hijrah dari kampus. Nggak ada lagi orang-orang yang bisa jadi tempat manja manja. Yes, manja. Terkesan dangdut tapi setelah mereka pergi gue baru sadar jadi kakak itu nggak gampang. Sedikit mengutip kata-kata Plaza Widya, 2011 itu tempat gue bertanya dan selalu ada jawabnya. They really are my mentor(s).


Teknik Kimia ITB 2012.
Simbol kebaikan Tuhan yang menakdirkan aku menjadi bagian darimu.
From these people I realize that friendship is not only about doing stupid things together, sharing laughs, and ghibah, but friends also could piss you off, break your heart, and make you cry. This way you could learn from each other. Some people judge their lives on who they are, others on what they do. I want my life judged on how enriched I am from just knowing these people. 
P.S. I will continue this story later after my examination.


Teknik Kimia ITB 2013.
Dedek-dedek gemesh.
Sahitya Adikari udah jadi sosok-sosok menggemaskan sejak gue ketemu sama mereka untuk pertama kalinya di osjur. Anak-anaknya cacat, sampis, punya gaya khas setiap mengekspresikan humor mereka, dan SUPER KRITIS. Mungkin salah satu yang bikin ngosjur capek tuh ya mereka, pertanyaan dan kritikannya nggak pernah bisa diantisipasi, walaupun pernah disimulasikan sekalipun (atau mungkin 2012nya aja yang tetep kurang kreatif dalam melakukan simulasi, saking nggak mau mikir, hahaha). Jangankan danlap, pasukan barikade di sekeliling aja kadang suka terpaksa ikut mikir dan pusing. Interaksi sama mereka selalu melelahkan lah pokoknya. Yet gue tetap merasa interaksi saat ngosjurin mereka adalah waktu yang selalu gue nantikan. Selama masih periode osjur, weekend tuh waktu yang dinanti banget pokoknya. The true weekend tempat dimana lo recharge energi setelah 5 hari kuliah.

Well, sebagaimana takdir tipe hubungan dengan angkatan yang berbeda satu tahun, 2013 merupakan partner kerja sekaligus tempat curhat yang nggak bisa lepas dari kehidupan gue. Sedikit berbeda dengan gaya hubungan dengan 2011 yang lebih seperti adik-kakak, 2013 bisa mencakup sosok adik sekaligus partner in crime. Angkatan tempat sampah banget lah pokoknya.

Kalo mau menggali ingatan terbaru yang masih fresh, di mata gue angkatan 2013 sekarang udah banyak berubah. Entah karena efek tingkat 3, atau memang jati diri mereka sebenarnya sudah keluar (?) Tingkat 3 selalu jadi momok yang bisa dengan seketika bikin lo super kayak patung di depan laptop dan fakir senyum. Ke-super-ambisannya mungkin melebihi 2011, ditambah prestasi akademik gemilang hahaha. Belom lagi, dari yang tingkat kecacatannya bisa bikin lo geleng kepala, angkatan ini tiba-tiba berubah jadi angkatan yang super pemikir banget. Sampe kadang gue malu sendiri liat mereka. Atau mungkin karena dari awal mereka punya bibit-bibit kritis? Entahlah. Tapi gue merasa sangat kehilangan sosok yang bisa banget bikin beberapa orang di angkatan gue dengan dangdutnya bilang "yaelah gue mah males kalo bukan karena 2013 asik-asik".

Tapi sekali lagi, gue selalu bersyukur karena dipertemukan sama angkatan ini oleh Tuhan. Kayaknya angkatan ini yang bikin himpunan paling rame di awal kedatangannya. Sampe one day mereka pernah sengaja mengadakan "tour de himpunan" tanpa ada rasa tengsin atau malu-malu, termasuk dengan niat keras belajar cara buka pintu himpunan. Cacat lah, seniornya cuma bisa pelangak-pelongok liatnya. Plusnya adalah lo banyak banget belajar kosakata baru kayak "sis", "cemana", dan ribuan kosakata enteng lainnya yang bisa bikin lo terus keingetan sama mereka. Walaupun ada sedikit rasa kehilangan sosok dedek gemesh yang kerjaannya tawa-tawa meleee, tapi mereka adalah sosok-sosok pertama yang bikin gue inget kalo gue harus do better dan growing up. Dan gue selalu tidak mau melewatkan masa-masa melihat mereka berkembang dan tumbuh untuk jadi pribadi yang lebih baik.


Teknik Kimia ITB 2014.
The most amazing thing I have ever met.
Whoaa, mendeskripsikan mereka memaksa gue terlebih dahulu membuat (sekaligus memangkas) list berisi poin-poin penting yang harus gue ceritakan tentang mereka. Banyak. Banget.

Gue orang yang percaya bahwa momen-momen awal itu sangat berharga. Ketika lo bisa dapet momen berkesan di awal, nggak peduli betapa jauhnya lo terpisah atau betapa seringnya tidak berinteraksi, lo nggak bakal ragu buat "balik lagi". Namun, berbeda dengan kedatangan orang-orang baru lainnya yang selalu membuat gue merasa excited, gue merasa banyak kehilangan momen awal bersama angkatan ini. Kedatangan mereka di Teknik Kimia teredam dengan kesibukan Kerja Praktek, Penelitian, atau kegiatan lainnya yang sukses jadi distraksi. Namun, kepesimisan gue untuk bisa making good memories bareng mereka sirna setelah akhirnya kenal dengan mereka.

Impresi pertama ketika lo mengenal mereka pasti bakal seragam: angkatan hura-hura. Kerjaannya ngebanyol, jalan-jalan, ketawa-tawa, ngeles, banyak banci tampil, dan yah, hura-hura pokoknya. Mereka adalah dedek-dedek ngegemesin yang sekaligus bisa jadi partner hura-hura terbaik sepanjang masa, plus "nyenengin" banget. Dan percayalah makna "nyenengin" di sini sangat dalam. Karena setiap menghabiskan waktu bareng mereka, lo cuma bisa ngerasain yang namanya "senang" dan sense lo buat merasakan jenis perasaan lainnya seolah-olah mati. Amazing banget.

So far, mereka adalah angkatan dengan jumlah performer wisuda terbanyak kayaknya di HIMATEK (50 gitu? atau 60?). Dan gue sangat tidak ragu untuk mengatakan bahwa perform Wisuda Oktober mereka adalah yang terbaik selama 4 tahun gue menyaksikan perform wisuda HIMATEK di kampus.

Tapi, setelah menjalani hari-hari bersama mereka setahun terakhir di kampus, gue sadar kalo mereka bukan cuma sekedar angkatan hura-hura.
The entire ocean in a drop.
Mungkin ini kata-kata yang paling bisa menggambarkan angkatan 2014. Lo sangat bisa menemukan jenis manusia apapun disini. Orang-orang dengan idealisme cukup tinggi, orang-orang polos yang masih sangat naif, yang gak tahan kalo gak curhat, yang entah kenapa nggak pernah ngeluh, yang ambis, yang mager, yang tingkat semangat kajiannya overdosed, yang kritis, yang gak bisa bikin lo gak berenti ketawa, yang kerjaannya bikin lo geleng kepala, yang jago banget buat lo stay saat ngeghibah bareng, yang dangdut dan roman picisan, yang super all out, yang bisa diajak ngomong penting dan gak penting, pokoknya sosok-sosok yang bisa bikin lo mikir "I have never felt this way before" atau "this one is amazing".

Dan anehnya, apapun karakter mereka, pasti punya dosis kemanisan dalam diri mereka. Mulai dari mulut sampe the way they treat others. Manis. Banget. Mungkin ini kaliya yang bisa seketika mematikan sense perasaan lo yang lain selain perasaan seneng ketika lagi bareng mereka.

Gue punya doa (dan harapan) yang selalu coba gue panjatkan buat mereka.

Pertama adalah semoga mereka cepet sadar bahwa mereka adalah angkatan yang punya potensi sangat besar dalam banyak hal. Setiap individu dari mereka punya pesona sendiri yang nggak bakal berenti bikin lo amazed. Dan apalagi ketika mereka all out sebagai sebuah kesatuan angkatan, gue 1000% yakin mereka bakal sukses membuat dunia kebingungan.  

Kedua adalah doa untuk melindungi ketakutan gue akan mereka yang mungkin merasa "Ayah, mengapa aku berbeda?". Well, gue nggak pernah bener-bener tau apa yang mereka rasakan ketika "bergaul" di himpunan. Mungkin beberapa merasa biasa aja. Hanya saja entah kenapa gue selalu merasa mereka adalah segerombolan gifted children dengan muka tablo dan masih polos sedang mencari tangan yang mau menuntun, sayangnya nggak ada satupun sosok (ataupun tipe angkatan) yang mampu mengimbangi karakter mereka. Yap, selama bertemu dengan 5 angkatan disini, menurut gue nggak ada yang fit in untuk posisi itu. They really are different. Dan gue hanya bisa berdoa potensi mereka tidak akan terbunuh hanya karena itu, semoga mereka tetap bisa menyerap hal-hal baik disekitar mereka, walaupun semuanya belum cukup untuk ukuran gifted children dengan kapasitas penyerapan sangat besar seperti mereka.

Ketiga, ini mungkin tidak terdengar seperti doa. Tapi berbeda dengan harapan gue untuk selalu bisa melihat 2013 tumbuh besar, gue malah berharap 2014 selalu stay as it is. Gue nggak siap melihat mereka "gede", layaknya seorang anak yang merengek minta papa mamanya buat bikinin dedek kecil yang yaudah plis kecil terus aja biar lucu bisa dicubit terus, karena kalo udah gede biasanya ngeselin dan suka ngajak berantem. Sama halnya kayak punya anak kucing. I am really not ready yet to see them growing up, even they--still are growing up anyway :)

Angkatan 2014 buat gue adalah (semoga menjadi) penutup yang paling manis dan sempurna untuk hari-hari gue di Teknik Kimia.

Teknik Kimia ITB 2015.
Looking forward to the moment when I can know them better. Yah, satu atau dua memori gapapalah.

I'll see you soon!


Note:
Those were my personal opinion, some of you may not feel or think the same way, and please don't feel offended.

Monday, April 18, 2016

Final Term Syndrom


Che NIGHT 2016 - Perform Angkatan Teknik Kimia 2012


Che NIGHT 2015 - Perform Angkatan Teknik Kimia 2012

Mars Angkatan Teknik Kimia ITB 2012

 

Thursday, December 3, 2015

Menjadi Kakak yang Baik

Menjadi anak terakhir dan yang termuda di keluarga membuat saya terbiasa untuk menerima, mengikuti, meniru, dan menjalani segala sesuatu hanya berdasarkan apa yang dapat saya lihat, tanpa banyak bertanya, dan tak peduli apakah saya harus membagikan dan menurunkannya atau tidak. Lucunya, hal ini terus terbawa hingga saya terjun ke bentuk dunia sosial yang berbeda, sebut saja sekolah dan kampus. 

Berada di tingkat akhir di Kampus ITB, saya menjadi terlalu familiar dengan kata "kaderisasi". Singkatnya, kaderisasi adalah proses penurunan nilai dalam rangka membentuk generasi penerus. Bicara tentang kaderisasi, ah saya bukan ahlinya. Tapi salah satu pelajaran yang saya ambil dari proses ini, dengan sedikit mengutip beberapa pendapat dari teman-teman saya, adalah tentang kesadaran untuk menurunkan nilai-nilai baik dengan segala kerendahan hati dan ketulusan yang diiringi harapan bahwasanya sang "kader" dapat menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Singkatnya, adalah tentang:

"Menjadi Kakak yang Baik"

Saya mencoba mendefinisikan sendiri kata-kata tersebut. Menurut saya, "Menjadi Kakak yang Baik" bisa tentang memaksa diri menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya, bisa tentang melakukan sesuatu dengan memikirkan dampaknya untuk generasi di masa depan, bisa tentang semangat menurunkan hal-hal baik untuk menjadikan sang adik orang-orang yang lebih baik. Kalimat tersebut bukanlah hal yang mudah dan sederhana untuk dilakukan. Ditambah, banyak orang merasa dengki atau jijik mendengarnya. Padahal, frasa tersebut bahkan dapat dimaknai lebih luas, bukan hanya sekedar digunakan dalam hubungan antar senior-junior di kampus, tapi juga dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi. 

Sebut saja cerita kakek tua yang menanam pohon yang baru akan berbuah ketika ia diperkirakan sudah tiada, agar manusia di masa depan dapat menikmatinya, adalah bukti semangat beliau untuk "Menjadi Kakak yang Baik".
Sebut saja penemu telepon, perjuangan mereka untuk membuat manusia di masa depan dapat lebih mudah berkomunikasi adalah bukti semangat mereka untuk "Menjadi Kakak yang Baik".
Sebut saja penemu internet, perjuangan mereka untuk membuat manusia di masa depan dapat lebih mudah mendapatkan informasi adalah bukti semangat mereka untuk "Menjadi Kakak yang Baik".
Sebut saja hal kecil seperti mengajarkan adik tingkat cara membuat proposal sponsor yang baik, agar semata-mata acara yang dikelolanya dapat berjalan dengan lancar, adalah bukti semangat mereka untuk "Menjadi Kakak yang Baik".
Sebut saja badan pengurus himpunan yang berjuang sekuat tenaga untuk mengelola keuangan himpunan, walaupun sering dicerca karena tingkat kepelitan luar biasa, tapi semua dilakukan semata-mata hanya agar dapat menyisihkan banyak bagian untuk badan pengurus selanjutnya.

"Menjadi Kakak yang Baik" sepertinya merupakan pelajaran penting yang dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihidupi.

Namun, membangun kesadaran kita untuk memperjuangkannya memang bukan perkara mudah. Pun kalau sudah sadar, terkadang kita masih selalu mentok ketika dituntut untuk menyadarkan orang lain dan mati kutu ketika mendapatkan respon-respon seperti:
"Yaelah kayak lo udah bener aja." 
"Emang apa untungnya buat gue?"
"Yaudah kan mereka ini yang sengsara, nasib lah." 
"Terus kalo minyak habis kenapa? 40 tahun lagi gue udah mati."
"Tahun lalu juga gitu, ya biarin aja biar mereka ngerasain susahnya kita dulu." 

 Lucunya, terkadang saya merasa respon-respon tersebut ada benarnya juga. 

Sayapun merenung semalaman hingga akhirnya menemukan alasan (untuk diri saya sendiri) mengapa saya harus memperjuangkannya. Alasan tersebut saya coba rangkum dalam 5 poin berikut:

1. Tentu saja, Al-Quran.
Sebagai seorang muslim, Al-Quran adalah pedoman hidup yang harus selalu saya pegang dan tidak boleh saya ragukan kebenarannya. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi (singkatnya, khalifah adalah pemimpin yang bertugas "mengurus" bumi, serta akan saling menggantikan satu dengan yang lainnya). Adam a.s adalah khalifah pertama yang diciptakan oleh Allah. Adam diajarkan oleh Allah beragam nama dan mendapatkan penghormatan berupa sujudnya malaikat kepadanya.

"Allah berfirman, 'Hai Adam, beritahukanlah nama-nama benda ini kepada mereka.' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda ini, Allah berfirman, 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan sembunyikan?" (Al-Baqarah: 33)

Jelas Allah disini secara langsung mengajarkan Adam dan berseru agar Adam memberitahukannya kepada seluruh alam, agar dapat mempersiapkan pengganti atau penerus estafet kepemimpinan. Selain contoh ini, banyak sekali ayat-ayat yang bercerita tentang kaderisasi dan atau regenerasi. Adapun cerita para nabi yang selalu berjuang untuk menurunkan nilai-nilai baik kepada keluarganya, juga seruan untuk menjaga bumi dan seluruh isinya:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58)

2. Sebagai Ungkapan Rasa Syukur dan Terima Kasih.
Tak banyak orang yang menyadari bahwa kehidupan kita hari ini adalah hasil jerih payah perjuangan generasi kita terdahulu. Kemerdekaan Indonesia, teknologi berupa laptop, sarapan sereal, televisi, internet, telepon genggam, semua adalah contoh semangat generasi terdahulu untuk "Menjadi Kakak yang Baik". Hutan gundul, tambang freeport yang semakin tak karuan, semua adalah contoh ketidakpedulian generasi terdahulu tentang "Menjadi Kakak yang Baik". Agar tidak kehilangan hal-hal yang kita punya, Tuhan menuntut kita agar selalu bersyukur. Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan rasa terima kasih kepada generasi terdahulu, kita harus menjaga apa yang kita punya hari ini, dengan meneruskan semangat "Menjadi Kakak yang Baik" yang telah mereka perjuangkan dahulu. 

3.  Imagine If Your Children...
Ketika kamu kesulitan menurunkan egomu untuk memikirkan umat manusia yang kamu rasa (mungkin) tidak memikirkanmu, pikirkanlah anak cucumu. Bayangkan anak cucumu kesulitan dalam hal akademik dan tidak ada yang menolongnya karena kamu tidak pernah menanamkan untuk selalu berbagi ilmu dalam kuliah, bayangkan anak cucumu tertekan karena terlilit banyak hutang akibat kegagalan divisi sponsorship karena kamu tidak pernah berbagi tentang bagaimana cara mendapatkan sponsor yang baik, bayangkan anak cucumu tak dapat lagi menghirup oksigen bersih karena kamu menggundulkan hutan-hutan yang ada, bayangkan anak cucumu menjadi budak bangsa asing karena kamu dan kebijakanmu yang terus-terusan membuat bangsa kita dijajah perlahan.
Dan ketika kamu belum dapat membayangkan sebesar apa rasa cintamu kepada anak cucumu, lihatlah mata kedua orang tuamu, maka kamu akan mengerti.
Ada sebuah doa yang selalu dipanjatkan oleh kedua orang tua saya, yang membuat saya tahu betapa besar cinta mereka dan kekhawatiran mereka terhadap masa depan saya:

"Ya Allah, jika anak-anakku tidak berhasil menjadi manusia yang memanusiakan manusia di jalan-Mu, maka biarkanlah mereka tetap menjadi manusia di hari Engkau memanggil mereka kembali."

Silahkan baca lagi makna lebih dalam dari "memanusiakan manusia" di link yang lain, hehehe. Dari doa sederhana itu saya tahu saya harus berjuang untuk masa depan anak-cucu saya, walaupun tidak mudah prosesnya. 

Kalian juga dapat membuka tautan yang masih dapat dibilang hangat hari ini:
https://www.facebook.com/notes/mark-zuckerberg/a-letter-to-our-daughter/10153375081581634

4. Percaya Karma.
Saya adalah salah satu orang yang sangat percaya dengan karma. Saya percaya kita akan diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang lain. Oleh karena itu, tanpa mengelak bahwa diri ini memiliki rasa pamrih, saya merasa harus selalu berusaha memperlakukan manusia lain sebagaimana saya ingin diperlakukan. Dan sebagaimana saya selalu berharap mendapatkan "warisan" yang baik dari para terdahulu, saya pun harus berusaha mewariskan yang baik-baik untuk masa depan generasi selanjutnya.

5. Seseorang Tidak Boleh Bicara Tentang Satu Hal Baik dengan Seolah-olah Ia Sempurna, Namun Tidak Juga Harus Menjadi Sempurna untuk Bicara Tentang Satu Hal Baik.
Sepertinya jika dibaca berulang kali, poin nomor 5 sudah cukup jelas.

Kalian juga masih dapat mencari dan menemukan alasan kalian sendiri. Saya pun masih belajar untuk percaya bahwa:
"The Future Belongs To Those Who Give Next Generation Reasons For Hope."



Utari
13012087
Mahasiswa Tingkat 4, yang masih berjuang keras untuk dapat "Menjadi Kakak yang Baik".

Tuesday, October 20, 2015

Baperness.

Government is all about service.
You cannot yell at them about their desire to take, as long as you, yourself, still cannot learn your precious lesson: 
a will to serve.

Ada banyak hal yang harus dilakukan dengan bermodalkan keyakinan bahwa manfaatnya akan datang, entah dimana, dengan cara apa, dan kapan. 
Ada banyak hal yang harus dimaknai lebih dalam, bukan hanya melalui sesuatu yang dapat dilihat saja.

Tuesday, June 30, 2015

I Thank You, 6th Semester.

Semester paling ter-biasa-sama-badai.
Badainya tidak pernah reda, namun ya, tetap biasa.
Mulai dapat mencoba belajar memandang sesuatu dari sisi yang berbeda.
Mulai dapat mengendalikan emosi untuk berdebat, dan mulai belajar mendengar.

P.S. Terima kasih IPnya naik, ya Allah. Hurrah!

I Thank You, 5th Semester!


Tidur 2 jam dari 72 jam melek.
Diusir dosen 2 kali karena penggunaan Bahasa yang kurang tepat.
Banyak lihat orang mengeluh sampai belajar untuk tidak mengeluh.
Hardest semester untuk Laptop yang selalu ditinggal tidur dan dibiarkan menyala semalaman.

P.S. Gila saking lama nggak nulis baru sadar ini cuma berakhir jadi draft.
Ditulis 1 Januari 2015.

Saturday, November 29, 2014

When You Had A Chance.

"Kalau sempat pulang dulu, dek. Lihat embah."

"Weekend ini aku ada Running Man himpunan sama Pasar Seni yang cuma 4 tahun sekali, Mah. Insyallah minggu depan aku sempetin."


Then she's gone.
Forever.
I didn't regret the things I've done. I regret the things I didn't do when I had the chance.



Berkurang satu lagi orang di rumah.
Semoga rumah itu tetap menjadi rumah.
Jaga mereka tenang di sisi-Mu, Allah.
Dan aku menangis tersedu menulis ini. 

Monday, October 13, 2014

Calon Pemimpin Global.

"Yah, gimana. Namanya juga Putra-Putri Calon Pemimpin Global. Nyari yang mau dipimpin ya susah."

Yesterday's quote.

Pressurized.

Living without any similarity is way better than living with an effort to eliminate the dissimilarity. The pressure is there.